jump to navigation

Ke Pasar Agung Oktober 23, 2006

Posted by Goslink in Daily Life, Depok.
trackback

Tahun ini adalah tahun keduaku merayakan hari raya Idul fitri bersama dengan istri. Ada beberapa perbedaan antara merayakan hari raya bersama orang tua dengan merayakan bersama istri. Biasanya untuk persiapan kebutuhan hari raya aku cukup menunggu di rumah, sementara ibuku berbelanja di pasar, kali ini aku harus mengantarkan istriku berbelanja di pasar, tak tanggung-tanggung pasar tujuan kita adalah pasar tradisional.

Aku mesti mengantarkan istriku berbelanja sayur dan daging di Pasar Agung, salah satu pasar tradisional yang ada di kota depok, tepatnya terletak di depok timur. Pasar 2 lantai ini merupakan salah satu pasar yang sudah mengalami renovasi dan penataan. Lantai 1 untuk pedagang sayur, daging dan bahan makanan pokok lainnya sedangkan lantai 2 untuk pedagang pakaian, emas dan perlengkapan rumah tangga. Namun sudah dapat diduga, kondisi pasar tradisional berbanding terbalik dengan kondisi pasar modern hypermarket yang saat ini sudah mulai “mengepung” kota depok. Mulai dari penataan parkir yang tidak teratur -cukup waswas juga parkir disini karena tidak ada jaminan keamanan kendaraan yang kita parkir, hingga kondisi pasar yang panas dan agak becek.

Menurut istriku, alasan utama berbelanja di pasar tradisional adalah harganya yang miring dan bisa di tawar. Dengan menawar ada kepuasan tersendiri yang tidak terungkapkan, berbeda dengan berbelanja di hypermarket dimana semua harga sudah dipatok dengan harga pas. Selain itu barang yang ada biasanya lebih fresh, contohnya istriku membeli ayam yang masih hidup dan minta di potong disitu sehingga ayam yang dibeli masih baru dan lebih terjamin kehalalannya karena disembelih dengan menyebut nama Allah.

Menurut pengamatanku, sesungguhnya pasar tradisional masih cukup menarik bagi sebagian orang meskipun berada ditengah gencarnya promosi hypermarket. Terlihat dari penuhnya lahan parkir serta padatnya suasana di dalam pasar. Bukan saja kalangan menengah yang berbelanja di sini, karena cukup banyak juga mobil-mobil baru yang diparkir di sana. Tampaknya pesona pasar tradisional masih cukup menarik bagi sebagian warga depok, tinggal bagaimana pemda depok menatanya agar lebih rapi lagi sehingga jangan sampai di masa datang orang hanya mengenal Carrefour, Hypermart ataupun Giant, sedangkan pasar Agung hanyalah tinggal kenangan.

Komentar»

1. sutisna - November 25, 2008

Saya ucapka beribu-ribu terimakasih, atas pandangan positif bapak terhadap pasar tradisional, demoga allah tetap menjaga pandangan dan niat baik bapak, pasar tradisional adalah warisan budaya luhur bangsa kita, kalau bukan oleh kita siapa yang akan melanjutkan warisan budaya bangsa? dipasar ada nilai silaturahim, coba sedikit mengerti dengan mereka (pedagang) bicara hati ke hati…pasti jadi silaturahmi. asal mereka ramah-ramah, ada tegur, sapa menawarkan barang dagangannya, ketemu di jalan menyapa, tapi kini mereka…..mulai terpojok oleh persaingan modern, dengan manajemen modern, mereka di isukan mahal oleh pengiklan-pengiklan pasar modern. pasar modern membuat image murah di tokonya, padahal hanya trik marketing aja, kalau mereka benar menjual murah tinggal hitung waktu saja pasti bangkrut, karena berapa operasional listrik, (lampu, Ac dll) telephone, iklan ga karyawan,….gak kebayang.

2. Ressa - Juli 10, 2009

dear pak,
besok aku harus jemput ibu mertua dari pemalang and minta dijemput di pasar agung depok…kalo dari margonda tuh pasar ke mana yah?

Terima Kasih

3. wijaya - November 15, 2012

mantab mas bro..pasar tradisional (y)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: