Beberapa Kekeliruan dalam Hari Raya Idul Fitri Oktober 23, 2006
Posted by Goslink in Islam, Opini.trackback
Setelah melaksanakan ibadah shaum (puasa) selama 1 bulan, Umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Fitri. Ketika mendengarkan kultum setelah sholat dzuhur beberapa waktu lalu di kantor, ustadz pembicara (saya lupa namanya) menyoroti ada beberapa kekeliruan yang terjadi di masyarakat terkait dengan hari raya Idul fitri. Saya tidak mengatakan bahwa pendapat ustadz itu seluruhnya benar atau salah, saya hanya coba membagi pengetahuan yang saya peroleh tersebut. Berikut ini beberapa kekeliruan yang disorotinya :
Pertama adalah pengertian dari Idul Fitri itu sendiri. Selama ini Idul fitri diartikan sebagai “kembali ke pada fitrah” ataupun “kembali suci”. Padahal kalau dilihat artinya dalam bahasa Arab bisa menimbulkan perbedaan pengertian. Kata ‘Id berasal dari kata “Ada-Yaudu” yang maknanya kembali, sedangkan fitri berasal dari kata iftor yang maknanya berbuka. Jadi ‘Idul fitri sebenarnya bermakna “kembali berbuka setelah melaksanakan shaum selama 1 bulan”, bukanlah kembali suci yang selama ini dipahami oleh sebagian masyarakat Indonesia.
Yang kedua adalah istilah zakat yang wajib dibayarkan sebelum sholat ‘id. Selama ini masyarakat mengenalnya dengan sebutan “zakat fitrah”, padahal sebutan yang benar adalah “zakat fitri” sesuai dengan hari raya Idul fitri. Zakat fitri ini wajib dibayarkan sebagai penyempurna ibadah shaum, waktunya hingga sebelum khotib sholat ‘id naik ke atas mimbar. Bila lewat dari waktu tersebut, maka hanya dianggap sebagai infaq biasa.
Yang ketiga adalah pelaksanaan sholat ‘id. Sholat ‘id hukumnya sunnah muakad, tempat pelaksanaannya di lapangan ataupun tempat terbuka bukannya di masjid. Selama hidupnya Rasulullah melaksanakan sholat ‘id di tempat lapang dan tidak pernah didalam masjid sekalipun di dalam masjidil Haram ataupun masjid Nabawi meskipun diketahui bahwasanya pahala sholat di masjid tersebut lebih besar dibandingkan sholat di masjid lain.
Yang keempat adalah khutbah sholat ‘id. Khutbah hanya dilakukan satu kali, berbeda dengan khutbah sholat jum’at dimana khotib duduk di antara 2 khutbah. Hukum mendengarkan khutbah ‘id pun hanya sunah, berbeda dengan khutbah sholat jum’at yang wajib dan merupakan bagian dari ibadah sholat jum’at itu sendiri.
Yang kelima adalah tata cara sholat ‘id. Sholat ‘id dilaksanakan 2 raka’at dimana pada rakaat pertama ada 7 takbir setelah takbiratul ihram dan 5 takbir di rakaat kedua setelah takbir bangun dari sujud. Rasulullah tidak pernah memberikan contoh bacaan khusus diantara takbir-takbir tersebut. Hanya saja ada seorang sahabat yang menambahkan dengan kalimat :”Subhanallah Walhamdulillah Wa Laa ilaha ilallah Wallahu Akbar”, hal ini tidak dilarang oleh Rasulullah.
Yang keenam adalah masalah takbir menyambut hari raya Idul Fitri. Takbir hanya dilakukan selama perjalanan sebelum sholat ‘id hingga sesaat sebelum khotib naik mimbar. Dan hanya dilakukan secara perseorangan, bukannya dilakukan secara berjama’ah. Jadi acara malam takbiran yang terjadi di masyarakat saat ini sesungguhnya tidak pernah dilakukan selama zaman Rasulullah.
Yang ketujuh adalah ucapan dalam hari raya Idul fitri. Dalam masyarakat Indonesia dikenal ucapan “Minal Aidzin Wal Faidzin”. Ucapan ini tidak ada landasan yang kuat dan entah sejak kapan dikenal di masyarakat. Ucapan yang diajarkan Rasulullah dalam hari raya Idul Fitri adalah “Taqoballahu Minna Wa Minkum ” yang artinya Semoga Allah menerima ibadah kita semua.
Sejauh ini baru 7 hal yang saya ingat disampaikan oleh ustadz pembicara dalam kultum sholat dzuhur tersebut mengenai kekeliruan dalam hari raya Idul fitri. Semoga hal ini bermanfaat dan memacu kita (terutama saya) untuk lebih kritis mencari dalil ataupun landasan dalam melaksanakan ibadah. Wallahu ‘alam bi showab.

tulisan anda sangat baik tapi sayang identitas penceramah (narasumber) tdk dicantumkan, sehingga sulit bagi saya khususnya menerima sesuatu yang tidak jelas kapasitas narasumbernya. ini seperti bergunjing
Mohon maaf baru bisa menanggapi. Saya berusaha mencari nama pembicara dari kultum tersebut, cuma sampai sekarang belum ketemu. Insya Allah saya tidak berusaha bergunjing, hanya menyampaikan apa yang saya dengar saja. Mungkin anda punya dalil yang lebih kuat, monggo…Namanya juga masih saling belajar.
ah.. keliri tapi ngak bahaya kok.. itu khan tradisi yang baik bukab bid a;h. sah-sah saja…..
Ah menurut saya mah yg namanya takbir beramai ramai sah2 aja karna itu udah tradisi di indonesia, dan saya mah baru tau disini ajah kalo takbiran cukup atau harus sendirian aja. Adanya lu doang gak rame..!
Assalamu’alaikum. saya tertarik dg uraian Sdr. hanya ada yang perlu sampaikan. mestinya Sdr. jangan menulis kekeliruan. memang benar ada beberapa yang keliru seperti makna al-fithri tapi pelaksanaan shalat dll itu bukan kategori keliru, tp lebih pada “ittifaqah”. jadi disamping data Saudara masih perlu sumber juga Saudara harus belajar ushul fiqh dulu agar bisa beristinbat dg baik dan menuangkan tulisan dengan baik.
Assalamu’alaikum warahmatullohi wa barokatuhSebaiknya informasi kawan kita ini menjadi koreksi bagi kita semua. Sy khawatir praktek kita selam ini memang masih banyak yang harus kita betulkan. Siapapun yang berbicara. Apabila kebenaran harus kita amalkan. Mengenai dalil dan sumbernya, kita kaji melalui telaah masing-masing. Masa harus menunggu orang lain. Gunakan kemampuan nalar dan kepandaian yang Allah berikan kepada kita. Syukron infonya yaa. Semoga kita mendapat Hidayah. Wassalamu’alaikum warahmatullohi wa barokatuh.
tentang takbir..! kita harus melihatnya dari sisi si’ar dan ucapan minal ‘aizin wal faizin, kan tidak dianggap ibadah itu hanya sekedar ucapan yang baik yang penting maknanya bukan simbolnya
8. andhy – oktober 6, 2007
assalamu’alaikum warahmatullohi wa barokatuh.tulisan dan info anda sangat menarik tapi lain kali tulis identitas kamu dong,syapa tau dengan tulis nama identitas kamu.kita bisa berbicara lebih panjang lagi (lanjut).kalau melalui chat.itu brabeh,masalah duit 4 chat.iya kan.eh lupa kalau bisa cari arti yang lain dong,kata2 gaul kan masih banyank lagi,ok. Wassalamu’alaikum warahmatullohi wa barokatuh
assalamualaikum….saya melihat ada semacam misslanguage dalam memahami kata idul fitri disini, yg saudara kemukakan tentang iid yg punya makna kembali itu betul, tetapi kalau fitri disini bukan bermakna “berbuka”/makan tetapi tetap bermakna fitrah atau suci tetapi jika bermakna berbuka atau makan berasal dari akar kata aftoro yuftiru “iftoor” jadi kalau punya makna kembali berbuka ya bbukan idul fitri tapi idul iftor, begitu.
yang kedua, secara linguistik bahasa arab kata zakat itu muanast (feminim) mk kata yg mengikutinya pun harus muanasts karena ini bentuk sifat mausuf atau na’at man’ut, mk ga benar pakai zakat fitri, karena fitri menunjukan mudakar (maskulin) mk betul menggunakan zakat fitrah.
yang ketiga tentang pelaksanaan sholat id rasulullah memang benar banyak dilakukan di lapangan karena mengantisipasi kaum perempuan yg terkena haid, jika di masjid ya najis, tapi pernah di mesjid ketika pas hari hujan.
yang keenam tentang takbir, kata siapa dilakukan hanya perseorangan, justru lebih baik dilakukan dengan berjamaah, kan kata hadits innal barokata ma’al jamaah dan yang
ketujuh tentang ucapan taqabbalallahu minna wa minkum itu sebenarnya realitas budaya, ucapannya sebenarnya ad kullu amin wa antum bi khairin dan jawabannya ad taqabbalallahu minna wa minkum. mengenai budaya mestinya harus tahu kaidah usul fiqih, aladatu muhakkamatun artinya budaya atau adat bisa dijadikan sumber hukum jadi kesimpulannya ucapan minal aidin wal faizin itu budaya indo dan tidak jadi masalah diucapkan ketika lebaran idul fitri dan taqabbalallhu minna wa minkum itu adalah budaya arab bukan budaya islam, itu yg perlu anda fahami. sukron. wassalam
Syukron Katsira atas tanggapan sdr andis saya jadi lebih lapang memahami isu yang dikemukakan semoga semuanya mendapat petujuk allah
Assalamu’alaikum wr wb
Saya baru saja mau menjelaskan tentang apa yang saudara tuliskan,tetapi ternyata sudah dijelaskan dulu oleh saudara Handis.Dan saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan oleh saudara Handis,tapi ada sedikit yang ingin saya sampaikan yaitu tentang makna zakat fitrah.Secara bahasa, zakat itu bermakna : [1] bertambah, [2] suci, [3] tumbuh [4] barakah. (lihat kamus Al-Mu`jam al-Wasith jilid 1 hal. 398). Makna yang kurang lebih sama juga kita dapati bila membuka kamus Lisanul Arab.Sedangkan secara syara`, zakat itu bermakna bagian tertentu dari harta yang dimiliki yang telah Allah wajibkan unutk diberikan kepada mustahiqqin (orang-orang yang berhak menerima zakat). Lihat Fiqhuz Zakah karya Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradawi jilid 1 halaman 38.
Kata zakat di dalam Al-Quran disebutkan 32 kali. 30 kali dengan makna zakat dan dua kali dengan konteks dan makna yang bukan zakat. 8 dari 30 ayat itu turun di masa Mekkah dan sisanya yang 22 turun di masa Madinah. (lihat kitab Al-Mu`jam Al-Mufahras karya Ust. Muhammad fuad Abdul Baqi).
Sedangkan An-Nawawi pengarang kitab Al-Hawi mengatakan bahwa istilah zakat adalah istilah yang telah dikenal secara `urf oleh bangsa Arab jauh sebelum masa Islam datang. Bahkan sering disebut-sebut dalam syi`ir-syi`ir Arab Jahili sebelumnya.
Dan dalam istilah zakat fitroh itu kata zakat itu tidak bisa atau tidak mungkin diidhofahkan dengan kata fitroh.Coba saudara-saudara perhatikan dan lihat pada kitab-kitab nahwu ataupun shorof.Dan perubahan kata atau istilah dari zakat fitri ke zakat fitroh itu akan merubah fungsi dari zakat fitri itu sendiri,dari mencukupi kebutuhan faqir miskin pada 1 syawal(idul fitri)sebagaimana perintah nabi SAW ” Ughnuuhum a thawaafi hadzal yaum”,lalu menjadi zakat kesucian.
Ini adalah sebuah kekeliruan bahasa yang sering kali terjadi. Akibat dari pengambilan istilah dari bahasa arab ke bahasa kita tanpa mengikuti kaidah-kaidah bahasa arab itu sendiri.Katakanlah misalnya istilah �amal jariyah� yang terlanjur akrab di telinga kita. Padahal seharusnya kalau kata jariyah itu mau dijadikan sifah, maka yang benar adalah al-amal al-jariy. Atau kalau mau memaksa dengan bentuk �jariyah�, maka gunakan istilah �shadaqah jariyah�, supaya sama-sama muannats.
Jadi memang demikianlah terjadinya banyak kesalahan penggunaan istilah di dalam pengamalan agama kita.Mungkin ini saja yang bisa saya sampaikan jika ada kesalahan memang saya hanyalah manusia biasa yang tak luput dari salah dan lupa,mohon kritik dan saran dari saudara-saudara semua.Terima kasih banyak,,,,,
Wassalamu’alaikum wr wb
Assalamu’alaikum wr wb
Terima kasih atas penjelasannya kepada saudara Heru,saya bisa minta tolong nggak?????boleh tau alamat email anda????karena saya ingin mengobrol dan berdiskusi banyak tentang agama bersama anda.sebelumnya saya minta maaf dan saya sampaikan banyak terima kasih.
Wassalamu’alaikum,,,,,,,,,
Salam: saya berharap kita harus kembali kepada akar syariah yang di ajarkan Rasulullah akan tetapi kita juga harus lebih banyak belajar tentang Islam, semoga Allah selalu memberkahi anak.
Thanks berat buat Akhi Handis. Memang betul harus seperti itu memahami apa yang kita amalkan selama ini. Yang harus kita waspadai dan kritisi, memang suka ada penceramah/ustaz (mungkin menganggap mustami’nya gak ngerti lebih dalam ttg agama) yang memvonis sebuah kekeliruan atau bid’ah kepada pendapat atau amaliah orang lain yang tidak sama dengannya. Tentu ini kurang baik bagi kecerdasan umat dalam beragama.
Yang paling menggelikan dari artikel diatas “pendapat idul fitri artinya kembali berbuka.. wakakakaaaaa………. untuk mas handis udah membetulkan, mungkin ustaz itu juga taklid and gak belajar ilmu sharaf atau komparasi makna lewat hadits-hadits.
Tanpa melihat ilmu sharaf-pun, alangkah dangkalnya jika hari raya kita ujung2ya hanya urusan perut (idul fitri=kembali berbuka alias makan-makan), yg sama sekali ga ada urusannya dengan ketaqwaan (buah puasa). Jangan sampai nasibnya seperti holiday= hari suci untuk ibadah, justru bergeser menjadi hari untuk rekreasi/senang2. Alih-alih mau meluruskan, tp yg terjadi justru pengebirian luar biasa pada ajaran agama. Syiar (takbiran) dimatikan pelan2. Kita perlu hati-hati pd fenomena ini. ‘Musuh2′ islam menghancurkan agama ini dg memakai tangan umatnya sendiri. Berani mengkafirkan para ulama2 besar, ajarannya dianggap bid’ah, bid ah itu sesat dan sesat adalah neraka.
Intinya kita memang harus banyak mengaji, banyak ulama, banyak sumber, dan bahkan banyak tafakur, untuk paham akan luasnya ilmu Allah, sehingga kita tidak termasuk yang beribadah hanya dipinggiran saja (QS22:11). Mudah-mudahan kita selalu diberi hidayah oleh-Nya.
Bila kita melaksanakan hari raya idul fitri di hari jum’at dan kita sudah melaksanakan solah id, apakah untuk shalat jum’at kita diharuskan untuk melaksanakannya atau shalat jum’ta itu menjadi shalat dzuhur karena kita sudah melaksanakan shalat id di pagi hari
Assalaamu’alaikum W W
Pertama, saya sempat membaca blog saudara tentang kekeliruan umat dalam Idul Fitri. Saya perpendapat bahwa tulisan itu ajib/bagus, walau memang perlu penajaman (dan sudah dibangun bersama oleh/dengan saudara-saudara lain rupanya dalam perkembangannya), maka anggaplah ini masukan dari saya selaku saudara. Apapun juga, saya sungguh gembira dengan langkah dan pemikiran anda.
Yang kedua, saya kebetulan juga salah satu moderator Islamic Discussion Via Internet/IDVI ( http://groups.yahoo.com/group/islamic_discussion_via_internet/ ), dan saya mengundang saudara untuk bergabung dengan kami,untuk membangun umat, membangun Islam, membangun diri; dengan segala kerendahan hati, jika saudaraku ini bersedia. Juga mungkin saudara-saudara lain yang turut membaca tulisan ini. Ahlan wa sahlan.
Sedikit tentang IDVI:
IDVI dimulai pada pertengahan kedua tahun 2004, dari puluhan kawan-saudara yang ingin membangun diri dan umat secara populer, nyata dan terkini. Setelah berbagai variasi riuh-rendah dan ujian dalam perjalanannya, saat ini anggotanya sudah mencakup berbagai tokoh umat dan organisasi besar umat, ratusan alamat e-mail. Mailing List ini menekankan pada pengembangan umat melalui pengembangan diri sendiri untuk saling mengingatkan, saling menolong, saling membesarkan, karena kami percaya bahwa setiap manusia mampu berkembang menuju kebaikan, dengan bimbingan Allah SWT, selama ia berada dalam jalanNya.
IDVI, tempat maya bersilaturahmi pribadi-masyarakat dalam keislamian, untuk membangun Islam menyenangkan, luas, terkini, bijaksana, dan indah. Setiap anggotanya berhak berkontribusi dari hal ‘ringan’ sampai ‘berat’.
Allah SWT Tuhan Yang Benar memberikan petunjuk Taurat, Zabur, Injil, Al Qur’an & pesan-pesan lain. Dibawakan para Rasul, Nabi, dan Utusan sejak Nabi Adam AS ke (di antaranya) Nabi Nuh (Noah) AS, Daud (David) AS, Musa (Moses) AS, Isa (Jesus) AS, dan Muhammad SAW Rasul terakhir; juga oleh utusan-utusan lain yang tak tercatat. RahmatNya beragam: proses dinamis yang selalu mengubah dunia, agama kesatuan indera-akal-hati, keseimbangan, kedamaian, dsb.; berlimpah bagi makhluk seluruh dunia.
Alasan berdirinya IDVI:
1. Kita adalah Da’i, mampu berdakwah.
2. Kita adalah pemimpin.
3. Kita adalah bagian umat Islam.
4. Kita perlu berkomunikasi.
5. Kita perlu ilmu.
6. Kita sebaiknya bersatu karena ada musuh nyata, Iblis & Setan, melalui kebodohan, keangkuhan, kepicikan, egoisme, keserakahan, dsb.
7. Ada keresahan tak terucapkan di kalangan ummat.
8. Ada keinginan untuk beragama dengan lebih baik.
9. Ada sarana yang memungkinkan interaksi.
10. Ada Tuhan dan sistemNya.
Dari banyak hubungan, banyak yang senang mengirimkan e-mail berisikan ilmu, cerita kehidupan, curahan hati, artikel, berita, nasihat, humor, komentar, dsb., via Internet; yang sebenarnya bernilai ISLAMI. Jadi, mengapa kita tidak membaginya di sini, tak perduli sesederhana apapun juga itu? Insya Allah kita akan mendapatkan lebih banyak pahala, saudara & pengalaman, karena ‘dari yang sedikit dapatlah menjadi banyak’.
Ajaklah juga sebanyak mungkin saudara kita!
“Anakku! Kerjakanlah shalat, anjurkanlah perbuatan yang baik, cegahlah perbuatan keji dan bersabarlah terhadap kemalangan yang menimpamu. Sesungguhnya semua itu hal-hal intisari hidup yang diwajibkan Tuhan” – QS Luqman 17.
Wasslmlkm W.W.
A. Machicky Mayestino – Moderator I
machickymayestino@yahoo.com
http://groups.yahoo.com/group/islamic_discussion_via_internet/
saya setuju dengan pendapat heru yang di posting tanggal 9 okt 2007. Kita harus lebih banyak belajar lagi tentang bahasa arab. Karene bhs arab adalah bahasa alquran dan bahasa Rasulullah SAW.
luar biasa semangat pemberi komentar ini, ditulis tahun 2006 dan tetap dibaca sampai tahun 2008
alhamdulillah, saya juga jadi punya tambahan ilmu membaca postingan ini lengkap dengan komentarnya yang sangat berbobot.
salam
[...] Akhir kata, selamat Idul Fitri. Taqobalallahu minna wa minkum. [...]
Salam.
Siiipp…..!!! Semoga semua yg posting demi kebaikan di sini mendapat rahmat dan berkah dari Allah. Amiin.
Yg penting tetap satu Islam. Jangan jadikan perbedaan golongan sgb ego shg menimbulkan perpecahan di antara umat terbaik ini, Islam tetap satu….!!!
Syukran Atas semuanya, selamat berbuka puasa:)
Asslkm…ah trlambat ngebaca nih.
Saya sih mau nyampein tuh si Ustadz harus banyak belajar lagi deh..Kalau mau ceramah/dakwah harus di bekali ilmu dong.Berdakwah tapi ilmunya secuil (dangkal) bisa bikin umat pada salah bahkan bisa jadi sumber pecah belah umat.
Lucu aja sih cara si ustadz membedah kata “fitri”,trus ngebahas “minal ‘aidin walfaiziin”,sholat ‘ied dilapangan dst…heheheheh tanya deh si ustadz tuh pernah mondok ga sih?..faham gramatika arab ga?pernah kenal ilmu ushul fiqh ga?pernah buka2 kitab mu’tabaroh ga?…ah jangan-jangan malah ga bisa baca kitab…weleh weleh…Kok udah berani tampil kayak da’i beneran yah..Untuk yang punya blog,makasih atas postingan artikelnya.Akhirnya jd tau kalao ada ustadz yg kayak gitu.Antum harus ngaji pada ustadz yang bener-bener ustadz jika masih awam..Ayo mas semangat belajar !!..cari ilmu setinggi-tingginya!!..lalu amalkan dan gunakan ilmu itu agar kita bisa semakin dekat dengan Sang Kholiq…semoga